Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Sekali Lagi

- 0 komentar
Malam minggu lagi. Aku hanya bisa terdiam di kamar sambil memandangi tugas-tugas kuliahku. Aku berfikir apakah kali ini aku harus malam mingguan sama tugas kuliah lagi? Seandainya kau masih ada disini, pasti aku tak akan bingung untuk melewati malam seperti ini. Masa bodo lah sama tugas, aku mau cari udara di luar malam ini.



Berkeliling kota tak jua menghilangkan penatku, sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti di jalan Pemuda. Setiap malam minggu jalan ini biasanya ramai sama orang-orang untuk bermalam mingguan, karena memang tempat ini salah satu tempat favorit anak muda untuk menghabiskan malam minggu selain di taman kota. Tapi tidak begitu lama aku putuskan untuk pindah ke taman kota. Aku butuh tempat yang nyaman buat sendirian. Dan suasana jalan Pemuda tidak seperti yang aku butuhkan saat ini.
[Baca Selengkapnya...]

Minggu, 21 April 2013

Hujan Dan Masa Lalu

- 0 komentar

Ilustrasi (diambil dari google)



Hujan... Adalah sebuah karunia dari Allah terhadap bumi ini. Seperti sore ini, hujan datang setelah beberapa hari terakhir panas mentari begitu menyegat. Sebelumya tak ku kira bahwa hujan akan turun. Karena sejak pagi sinar mentari tak pernah bersahabat, seakan tiap waktu bumi ini semakin panas. Tapi entah mengapa semenjak matahari mulai condong ke barat awan mendung berkumpul begitu cepatnya di langit. Dan seiring bejalanya waktu tiap tetes air mulai turun membasahi bumi. Semakin lama tiap tetesan kecil air mulai berubah menjadi tetesan-tetesan besar. Hujan menjadi cukup lebat di sore ini.

[Baca Selengkapnya...]

Kamis, 28 Februari 2013

Mendengar Tuhan

- 0 komentar

Saat aku pulang ke rumah pada malam setelah matahari terbenam aku melewati sebuah jalan setapak di tengah-tengah perkebunan teh.  Perkebunan yang sangat luas milik seorang pedagang kaya dari kota. Disamping jalan terdapat sebuah batu besar yang diatasnya ada seseorang lelaki tua sedang mamandangi langit seja. Dia duduk dengan malipat kaki di depan dadanya dan mendekapnya dengan kedua tangannya. Dari raut wajahnya terlihat banyak sekali kerutan, menandakan usianya yang sudah lebih dari 70 tahunan. Saat melewatinya aku coba menyapa lelaki tua itu, tapi ia mengacuhkanku dan tetap melihat ke langit dengan air menetes dari mata tuanya. 

Pada hari yang lain aku kembali melewati jalan tersebut. Kali ini aku melewatinya pada senja hari, tepat sebelum matahari menidurkan desa ini. Sama seperti hari sebelumnya, aku melihat laki-laki tua itu duduk di atas batu. Yang berbeda adalah arah pandangannya, dia memandangi perkebunan teh di depannya. Sebuah suara aku dengar darinya, suara tawa kecil keluar dari mulutnya. Akupun melewatinya dengan diam. 

Sampai di ujung perkebunan,aku bertemu dengan seorang penduduk desa yang bekerja di perkebunan teh itu. Aku bertanya kepada wanita itu tentang laki-laki tua yang aku temui tadi. Wanita itu berkata bahwa laki-laki tua itu dalah orang gila. Ia mengaku bahwa sedang bicara dengan Tuhan saat duduk disana. Ia selalu melakukan hal itu dari senja sampai malam yang larut setiap hari. Setelah memberitahuku, wanita itupun pergi. Aku memadangi laki-laki tua itu sejenak kemudian pulang dengan sebuah pertanyaan di pikiranku. Bagaimana bisa ia bicara dengan Tuhan di atas batu itu.

Pada hari ketiga aku melewati jalan itu, aku melihatnya duduk dengan mata terpejam. Saat itu senja tak secerah hari-hari biasanya. Matahari bersembunyi di balik awan, seakan tak ingin ada yang melihatnya teritidur di ufuk barat. Perlahan aku beranikan diri naik ke atas batu itu dan duduk di sampinnya. Akupun mencoba mengajaknya bicara.

“Hai pak tua, apa yang sedang kau lakukan disini?” 

“Aku sedang mendengarkan Tuhan bicara padaku.”jawabnya sambil tetap memejamkan mata.

“kemarin aku melihatmu memandangi perkebunan sambil tertawa. Sementara di lain hari aku melihatmu menatap langit dan meneteskan air mata. Sebanarnya apa yang Tuhan katakan padamu?” tanyaku tentang apa yang aku lihat di hari sebelumnya.

“Saat aku menatap langit Tuhan berkata padaku tentang betapa kecilnya aku. Ia menciptakan bumi, bulan, bintang bahkan langit yang tak terkira luasnya. Sementara aku hanya seonggok daging yang bahkan tak ada sepermilyar bumi.”

“lalu apa yang Tuhan katakan kemarin sehingga kau tertawa?” tanyaku penasaran.

“Tuhan bilang bahwa aku adalah orang yang sangat beruntung. Aku tinggal di desa yang damai dengan perkebunan teh terbaik di dalamnya, teh yang bisa aku nikmati setiap saat aku mau meminumnya.” Katanya dengan nada yang sangat yakin.

“Sekarang kau sedang duduk disini, lantas apa yang Tuhan katakan saat ini?”

Tiba-tiba mata laki-laki tua itu terbuka. Dengan pandangan yang sangat tajam ia menatapku dan berkata dengan nada amarah. “Tuhan bilang aku ini bodoh. Aku ini bodah telah menjual kebunku kepada orang kota serakah itu, dan kini ia menjadikan kami budaknya.”

Kemudian pak tua itu turun dari batu besar tersebut dan berjalan di tengah-tengah kebun sambil berkata “betapa bodohnya aku, dasar bodoh.. dasar bodoh... aku benar-benar bodoh....”

Aku hanya terdiam melihatnya pergi menjauh dan menghilang dari pandanganku. Kemudian aku memejamkan mataku dan mencoba memahami pembicaraanku bersama orang tua itu.



[Baca Selengkapnya...]

Sabtu, 23 Februari 2013

KEANGKUHAN

- 0 komentar
Dahulu di sebuah desa kecil ada seorang perempuan yang sangat dikagumi. Perempuan ini di beri banyak kelebihan oleh Tuhan. Dia sangat cantik, bahkan cerita tentang kecantikannya terdengar sampai penjuru negeri. Selain itu dia di beri kekayaan yang sangat melimpah.

Banyak sekali laki-laki yang tertarik padanya dan berusaha mendapatkannya. Laki-laki  silih berganti datang melamarnya untuk dijadikan istri. Suatu hari datang seorang bangsawan datang untuk melamarnya.

Ketika laki-laki itu datang dang mengungkapkan keinginannya untuk memperistri, perempuan itu berkata dalam hatinya “kecantikanku terlalu berharga untuk menjadi milik laki-laki gemuk seperti dia.” Akirnya perempuan itu menolak lamaran bangsawan itu.


Pada hari lain datang seorang pemuda tampan yang bermaksud sama. Pemuda ini adalah seorang petani dari sebuah desa yang jaraknya sekitar 100mil dari rumah perempuan ini. Saat pemuda itu berada di rumahnya ia kembali berkata dalam hatinya “aku jauh lebih kaya dari petani itu, semua harta yang aku miliki terlalu mewah untuknnya. Aku tidak akn menikah dengannya.” Perempuan itupun kembali menolak lamaran yang datang padanya.

Selang beberapa waktu datang seorang pangeran yang juga bermaksud untuk melamranya. Perempuan itu mulai tertarik pada sang pangeran, tapi pikiran seperti sebelumnya muncul kembali. “ah, tidak juga untukpangeran ini. Kecantikan dan kekayaanku masih terlalu berharga untukknya.” Penolakan kembali terucap dari bibirnya.

Hari demi hari berganti, tahun demi tahun berlalu. Perempuan cantik itupun mulai bertambah tua. Kecantikan wajahnya mulai digantikan keriput. Kekayaan yang selalu ia banggakan mulai habis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Waktu terus berjalan, hingga perempuan itu semakin tua. Kecantikannya yang dulu terkenal, kini hilang bak ditelan bumi. Ia akhirnya hidup dalam kesendirian di rumahnya, rumah yang dulunya megah terawat kini seperti rumah yang tak berpenghuni. Sampai kemtian datang tak seorangpun tahu bahwa ia masih tinggal di rumah itu.



[Baca Selengkapnya...]
 
Copyright © . Gunawan Setyo Nugroho - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger